PEMERINTAH kembali akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam
waktu dekat ini. Konon, kondisi Timur Tengah yang kian memanas merupakan
salah satu penyebab harga minyak dunia terus melambung tinggi mencapai
100 dolar AS per barelnya. Selama ini pemerintah memberikan subsidi
untuk menanggung naiknya harga BBM dunia, sehingga harga yang dinikmati
masyarakat tidak berpengaruh dengan kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan
laporan Menteri Keuangan RI bahwa setiap tahun terjadi pembengkakan
subsidi sekitar Rp 50 triliun hingga 70 triliun dari alokasi yang
ditetapkan. Tahun 2011 lalu, misalnya, subsidi BBM mencapai Rp 165
triliun. Sementara tahun 2010 sekitar Rp 129,7 triliun, pada tahun 2012
pemerintah akan mengurangi subsidi menjadi sebesar Rp 123 triliun dari
APBN-P.
Hal ini dilakukan untuk menghemat anggaran pendapatan
dan belanja Negara (APBN). Dalam hitungan Menteri Keuangan, dengan
kenaikan BBM sebesar Rp 1.000 per liter, penghematan subsidi sebesar RP
38 Triliun, sedangkkan jika kenaikan Rp 1.500 maka pemerintah bisa
menghemat Rp 54 triliun (Tempo.com).
Ditinjau dari aspek makro
ekonomi, kenaikan BBM akan memberikan dampak terhadap naiknya biaya
produksi barang dan jasa yang menggunakan BBM, seperti home industry,
industri manufaktur, perusahaan jasa transfortasi. Kenaikan biaya
produksi, akan mangakibatkan kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan
harga barang yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, akan
berakibat kepada cost pust inflation (inflasi yang disebabkan oleh biaya
produksi). Dalam kajian makro, inflasi ringan akan memancing
pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi itu diakibatkan oleh kenaikan
biaya produksi, maka kenaikan harga ini akan berakibat terhadap
penurunan output nasional (barang dan jasa yang dihasilkan nasional)
atau penurunan pertumbuhan nasional.
Menyumbang kemiskinan
Jika
terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, maka efek dari kenaikan BBM ini
akan menyumbang kemiskinan dan terciptanya penggangguran. Sebab, banyak
perusahaan akan melepaskan sebagian tenaga kerjanya untuk tetap
mempertahankan keuntungan mereka yang maksimal. Efek lain jika kenaikan
BBM sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat, maka akibatnya
adalah turunnya daya beli masyarakat. Jika ini yang terjadi maka akan
terjadi kelesuan ekonomi.
Selain itu, jika penghematan anggaran
APBN melalui pengurangan subsidi BBM, maka pemerintah bisa meningkatkan
pembiayaan pengeluaran lainnya, untuk tujuan pembanguunan. Peningkatan
pengeluaran pemerintah atau kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah
dari sisi pengeluaran, khususnya pengeluaran untuk pembangunan, akan
mampu memicu pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagai contoh,
misalnya, dana dari subsidi digunakan untuk penggunaan pembangunan dan
perbaikan irigasi pengairan sawah di seluruh Indonesia, maka tentu
secara tidak langsung produksi padi Nasional akan meningkat. Efek dari
itu adalah pendapatan masyarakat akan meningkat, pembayaran pajak juga
akan meningkat, dan pendapatan Nasional juga meningkat.
Jadi
dengan penghematan APBN dilakukan pemerintah dan dialokasikan ke
kebijakan fiskal yang lebih besar, maka aka ada pertumbuhan ekonomi,
menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat kecil, dan menurunnya
angka kemiskinan.
Oleh karena itu perlu pengkajian lebih dalam
secara makro ekonomi dengan melihat seberapa besar pengaruh kenaikan BBM
terhadap inflasi yang disebabkan oleh cost pust inflation dan
penghematan yang bisa dialokasikan untuk tujuan pembangunan.
Memberikan
keringanan bagi masyarakat miskin agar mampu membeli BBM, tentu ini
tidak tepat sasaran. Secara realita malah terbalik dari anggapan ini,
jika kita melihat, masyarakat yang sangat miskin hanya menggunakan BBM
maksimal 2 liter/hari, sementara masyarakat kalangan atas ada yang
hitungan per barel/hari.
Pertanyaannya, berapa besar subsidi BBM
yang dinikmati oleh masyarakat kecil dan seberapa besar pula BBM yang
dinikmati oleh orang kaya?
Di sisi lain, efek dari subsidi BBM
telah terjadi penyuludupan, karena selisih harga antara Negara Indonesia
dengan Negara tetangga, sehingga para mafia ini menikmati hampir
triliunan dari subsidi BBM ini. Akibatnya, sasaran subsidi untuk
masyarakat kecil malah tidak tercapai.
Perlu dilakukan
Kesimpulannya
adalah jika pemerintah menaikkan BBM untuk penghematan APBN-P dilihat
dari keefektifan penggunaan anggaran maka sangat perlu dilakukan, untuk
mengatasi krisis belanja Negara. Kita merupakan Negara miskin yang masih
perlu pembangunan berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian,
infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Seharusnya
kita melakukan penghematan untuk tujuan pembangunan. Tanpa ada
pembangunan dari berbagai sektor, maka pengangguran terus meningkat,
juga meningkat kemiskinan yang akhirnya kita menjadi Negara selamanya
tertinggal dan terbelakang karena prilaku masyarakatnya yang tidak siap
dalam pembangunan ekonomi.
Selama ini masyarakat dikembangkan
dengan isu cost pust inflation atau inflasi yang disebabkan oleh biaya
produksi, tanpa mengkaji lebih dalam dari efek subsidi BBM. Melalui
tulisan ini maka perlu memahami lebih dalam dari efek kenaikan harga
tersebut.
Perbedaan pendapat memang kadang kala perlu, tetapi
setiap kebijakan nasional tentu ada efeknya terhadap pembangunan. Kita
sama-sama harus berpikir rasional dengan kenaikan harga BBM. Semoga
tulisan ini memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memahami isu
kenaikan BBM tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar