Kamis, 21 Juni 2012

PEMERINTAH kembali akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat ini. Konon, kondisi Timur Tengah yang kian memanas merupakan salah satu penyebab harga minyak dunia terus melambung tinggi mencapai 100 dolar AS per barelnya. Selama ini pemerintah memberikan subsidi untuk menanggung naiknya harga BBM dunia, sehingga harga yang dinikmati masyarakat tidak berpengaruh dengan kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan laporan Menteri Keuangan RI bahwa setiap tahun terjadi pembengkakan subsidi sekitar Rp 50 triliun hingga 70 triliun dari alokasi yang ditetapkan. Tahun 2011 lalu, misalnya, subsidi BBM mencapai Rp 165 triliun. Sementara tahun 2010 sekitar Rp 129,7 triliun, pada tahun 2012 pemerintah akan mengurangi subsidi menjadi sebesar Rp 123 triliun dari APBN-P.

Hal ini dilakukan untuk menghemat anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN). Dalam hitungan Menteri Keuangan, dengan kenaikan BBM sebesar Rp 1.000 per liter, penghematan subsidi sebesar RP 38 Triliun, sedangkkan jika kenaikan Rp 1.500 maka pemerintah bisa menghemat Rp 54 triliun (Tempo.com).

Ditinjau dari aspek makro ekonomi, kenaikan BBM akan memberikan dampak terhadap naiknya biaya produksi barang dan jasa yang menggunakan BBM, seperti home industry, industri manufaktur, perusahaan jasa transfortasi. Kenaikan biaya produksi, akan mangakibatkan kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan harga barang yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, akan berakibat kepada cost pust inflation (inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi). Dalam kajian makro, inflasi ringan akan memancing pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi itu diakibatkan oleh kenaikan biaya produksi, maka kenaikan harga ini akan berakibat terhadap penurunan output nasional (barang dan jasa yang dihasilkan nasional) atau penurunan pertumbuhan nasional.

 Menyumbang kemiskinan
Jika terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, maka efek dari kenaikan BBM ini akan menyumbang kemiskinan dan terciptanya penggangguran. Sebab, banyak perusahaan akan melepaskan sebagian tenaga kerjanya untuk tetap mempertahankan keuntungan mereka yang maksimal. Efek lain jika kenaikan BBM sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat, maka akibatnya adalah turunnya daya beli masyarakat. Jika ini yang terjadi maka akan terjadi kelesuan ekonomi.

Selain itu, jika penghematan anggaran APBN melalui pengurangan subsidi BBM, maka pemerintah bisa meningkatkan pembiayaan pengeluaran lainnya, untuk tujuan pembanguunan. Peningkatan pengeluaran pemerintah atau kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah dari sisi pengeluaran, khususnya pengeluaran untuk pembangunan, akan mampu memicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai contoh, misalnya, dana dari subsidi digunakan untuk penggunaan pembangunan dan perbaikan irigasi pengairan sawah di seluruh Indonesia, maka tentu secara tidak langsung produksi padi Nasional akan meningkat. Efek dari itu adalah pendapatan masyarakat akan meningkat, pembayaran pajak juga akan meningkat, dan pendapatan Nasional juga meningkat.

Jadi dengan penghematan APBN dilakukan pemerintah dan dialokasikan ke kebijakan fiskal yang lebih besar, maka aka ada pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat kecil, dan menurunnya angka kemiskinan.

Oleh karena itu perlu pengkajian lebih dalam secara makro ekonomi dengan melihat seberapa besar pengaruh kenaikan BBM terhadap inflasi yang disebabkan oleh cost pust inflation dan penghematan yang bisa dialokasikan untuk tujuan pembangunan.

Memberikan keringanan bagi masyarakat miskin agar mampu membeli BBM, tentu ini tidak tepat sasaran. Secara realita malah terbalik dari anggapan ini, jika kita melihat, masyarakat yang sangat miskin hanya menggunakan BBM maksimal 2 liter/hari, sementara masyarakat kalangan atas ada yang hitungan per barel/hari.

Pertanyaannya, berapa besar subsidi BBM yang dinikmati oleh masyarakat kecil dan seberapa besar pula BBM yang dinikmati oleh orang kaya?

Di sisi lain, efek dari subsidi BBM telah terjadi penyuludupan, karena selisih harga antara Negara Indonesia dengan Negara tetangga, sehingga para mafia ini menikmati hampir triliunan dari subsidi BBM ini. Akibatnya, sasaran subsidi untuk masyarakat kecil malah tidak tercapai.

 Perlu dilakukan

Kesimpulannya adalah jika pemerintah menaikkan BBM untuk penghematan APBN-P dilihat dari keefektifan penggunaan anggaran maka sangat perlu dilakukan, untuk mengatasi krisis belanja Negara. Kita merupakan Negara miskin yang masih perlu pembangunan berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Seharusnya kita melakukan penghematan untuk tujuan pembangunan. Tanpa ada pembangunan dari berbagai sektor, maka pengangguran terus meningkat, juga meningkat kemiskinan yang akhirnya kita menjadi Negara selamanya tertinggal dan terbelakang karena prilaku masyarakatnya yang tidak siap dalam pembangunan ekonomi.

Selama ini masyarakat dikembangkan dengan isu cost pust inflation atau inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi, tanpa mengkaji lebih dalam dari efek subsidi BBM. Melalui tulisan ini maka perlu memahami lebih dalam dari efek kenaikan harga tersebut.

Perbedaan pendapat memang kadang kala perlu, tetapi setiap kebijakan nasional tentu ada efeknya terhadap pembangunan. Kita sama-sama harus berpikir rasional dengan kenaikan harga BBM. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memahami isu kenaikan BBM tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar