Menggunakan Teori Kultivasi
Teori Kultivasi
Dalam ilmu komunikasi massa, teori yang bisa menjelaskan kaitan antara televisi dengan perilaku kekerasan anak-anak adalah teori kultivasi (cultivation theory). Teori ini pernah dikemukakan oleh Prof. George Gerbner ketika ia menjadi dekan Annenberg School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat berdasarkan penelitiannya terhadap perilaku penonton televisi yang dikaitkan dengan materi berbagai program televisi yang ada di Amerika Serikat.
Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak kita tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak anak-anak dengan televisi, anak-anak belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. Televisi karenanya, mampu menanamkan sikap dan nilai tertentu pada diri anak-anak itu.
Dengan demikian, dengan adanya tayangan kekerasan di televisi anak-anak akan menganggap bahwa kekerasan itulah yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Jadi, anak-anak akan menganggap perilaku kekerasan yang dilakukannya hal biasa saja. Apalagi, anak-anak yang sedang dalam proses pertumbuhannya, sedang dalam taraf meniru.
Dalam ilmu psikologi, anak usia antara 9-10 tahun belum bisa membedakan kenyataan dan fantasi. Usia ini masih rawan untuk nonton televisi sendirian. Akibat rangsangan ini, anak akan mengalami banyak benturan. Tak heran bila ada tayangan-tayangan yang tidak bermoral, bila diperkuat oleh realitas di lingkungan tempat dia tumbuh dan berkembang, bisa menjadi perilaku dan menanamkan pemahaman tentang apa yang ia lihat di televisi adalah benar.
Di usia 14-15 tahun, anak masih punya kecenderungan perilaku yang tidak tetap. Setelah melewati proses meniru, mengidentifikasi, dan mengembangkan perilaku pada usia sebelumnya, pengaruh yang diterimanya sejak kecil lambat laun tertanam sedikit-sedikit.
Televisi memang sudah sangat melekat dikehidupan kita sehari-hari. Dari televisilah kita belajar tentang kehidupan dan budaya. Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka.
Maka
melalui pemahaman diatas ada baiknya orang tua memberi pengawasan
khusus kepada anak-anak nya dalam memilih program televisi yang akan di
tonton. memberikan pengertian dan penjelasan-penjelasan ringan tentang
program televisi yang tidak seharusnya dipertontonkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar