Kamis, 21 Juni 2012

Bit

Claude E. Shannon pertama kali menggunakan kata bit dalam sebuah karya ilmiah pada tahun 1948. Ia menjelaskan bahwa kata tersebut berasal dari John W. Tukey, yang pada tanggal 9 Januari 1947 menulis sebuah memo kepada Bell Labs. Di dalam memo tersebut, beliau memendekkan kata "Binary digit" (digit biner) menjadi "bit".
Bit bekerja seperti saklar lampu, dalam arti sebuah bit bisa "menyala" atau "mati". Sebuah bit dapat bernilai "satu" atau "nol", "benar" atau "salah". Bit juga dapat memuat informasi untuk membedakan dua hal yang bertentangan satu sama lain. Sebagai contoh, sebuah bit dapat menandakan apakah seseorang adalah "warga negara Indonesia". Bit tersebut bernilai "benar" apabila orang tersebut adalah "warga negara Indonesia", dan bernilai "salah" apabila tidak.

Bit merupakan satuan paling kecil dalam jaringan "organ" komputer, atau bagian dalam komputer. Pada dasarnya bilangan bit merupakan perwakilan aliranlistrik, yakni hanya ada 2 saja yaitu 1 dan 0, yang bisa disebut 1= ada listrik dan 0= tidak ada listrik.

Bit merujuk pada sebuah digit dalam sistem angka biner (basis 2). Sebagai contoh, angka 1001011 memiliki panjang 7 bit. Digit biner hampir selalu digunakan sebagai satuan terkecil dalam penyimpanan dan komunikasi informasi di dalam teori komputasi dan informasi digital. Teori informasi juga sering menggunakan digit natural, disebut nit atau nat.

Bit juga digunakan sebagai satuan ukuran, yaitu kapasitas informasi dari sebuah digit biner. Lambang yang digunakan adalah bit, dan kadang-kadang (secara tidak resmi) b (contohnya, modem dengan kecepatan 56 kbps atau 56 kilo bit per second/detik). Satuan ini dikenal juga sebagai shannon, dengan lambang Sh.

Contoh bit, 100110 adalah 6 bit, 1001 adalah 4 bit. Jika melihat contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa bit merupakan sekumpulan jumlah angka 1 dan 0 dalam tiap baris.
Dampak Menonton Penayangan TV Bagi Anak-anak
Menggunakan Teori Kultivasi


Teori Kultivasi 
Dalam ilmu komunikasi massa, teori yang bisa menjelaskan kaitan antara televisi dengan perilaku kekerasan anak-anak adalah teori kultivasi (cultivation theory). Teori ini pernah dikemukakan oleh Prof. George Gerbner ketika ia menjadi dekan Annenberg School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat berdasarkan penelitiannya terhadap perilaku penonton televisi yang dikaitkan dengan materi berbagai program televisi yang ada di Amerika Serikat.


Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak kita tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak anak-anak dengan televisi, anak-anak belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. Televisi karenanya, mampu menanamkan sikap dan nilai tertentu pada diri anak-anak itu. 

Dengan demikian, dengan adanya tayangan kekerasan di televisi anak-anak akan menganggap bahwa kekerasan itulah yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Jadi, anak-anak akan menganggap perilaku kekerasan yang dilakukannya hal biasa saja. Apalagi, anak-anak yang sedang dalam proses pertumbuhannya, sedang dalam taraf meniru. 

Dalam ilmu psikologi, anak usia antara 9-10 tahun belum bisa membedakan kenyataan dan fantasi. Usia ini masih rawan untuk nonton televisi sendirian. Akibat rangsangan ini, anak akan mengalami banyak benturan. Tak heran bila ada tayangan-tayangan yang tidak bermoral, bila diperkuat oleh realitas di lingkungan tempat dia tumbuh dan berkembang, bisa menjadi perilaku dan menanamkan pemahaman tentang apa yang ia lihat di televisi adalah benar. 

Di usia 14-15 tahun, anak masih punya kecenderungan perilaku yang tidak tetap. Setelah melewati proses meniru, mengidentifikasi, dan mengembangkan perilaku pada usia sebelumnya, pengaruh yang diterimanya sejak kecil lambat laun tertanam sedikit-sedikit. 



Televisi memang sudah sangat melekat dikehidupan kita sehari-hari. Dari televisilah kita belajar tentang kehidupan dan budaya. Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka.


Maka melalui pemahaman diatas ada baiknya orang tua memberi pengawasan khusus kepada anak-anak nya dalam memilih program televisi yang akan di tonton. memberikan pengertian dan penjelasan-penjelasan ringan tentang program televisi yang tidak seharusnya dipertontonkan.

Peran media massa
Menurut Mc Quail, secara umum media massa memiliki berbagai fungsi bagi khalayaknya yaitu pertama, sebagai pemberi informasi; kedua, pemberian komentaratau interpretasi yang membantu pemahaman maknainformasi; ketiga, pembentukan kesepakatan; keempat, korelasi bagian-bagian masyarakat dalam pemberian respon terhadap lingkungan; kelima, transmisi warisan budaya; dan keenam, ekspresi nilai-nilai dan simbol budaya yang diperlukan untuk melestarikan identitas dan kesinambungan masyarakat (dalam Yuniati, 2002: 85).
Oleh karena itu media massa seharusnya menjadi sarana pencerahan dan transformasi nilai-nilai kebenaran agar masyarakat dapat melihat secara apa adanya. Media sebaiknya tidak memunculkan kesan menilai atau keberpihakan khususnya dalam masa kampanye Pemilu. Biarlah masyarakat sendiri yang akan menilai. Yang diperlukan media hanyalah menyampaikan informasi yang sebenarnya, jelas hitam putihnya. Sehingga masyarakat tidak terjebak pada pilihan mereka, karena persoalan Pemilu adalah persoalan masa depan bangsa. Media harus mampu bersikap objektif dalam penayangan berita.
Pengaruh televisi
Dalam hal kampanye, media massa baik cetak maupun elektronik merupakan sebuah salauran kampanye terhadap konstituen. Apalagi dengan arus teknologi ini, rasanya media elektronik menjadi salauran utama bagi jalan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat khususnya dalam masa kampanye Pemilu. Medium ini telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Hal itu salah satunya disebabkan sudah banyaknya masyarakat yang memiliki televisi maupun radio, bahkan sebagian lagi sudah mampu menggunakan internet. Oleh karena itu banyak Partai maupun calon yang akan berkompetisi di Pemilu menggunakan sarana atau saluran kampanye melalui media elektronik khususnya televisi.
Banyak sedikitnnya penayangan yang berhubungan dengan transformasi ataupun sosialisasi visi dan misi dari sebuah Partai maupun calon yang dijagokannya akan sangat mempengaruhi penilaian masyarakat terhadapnya. Oleh karena itu, bagi yang ingin mendapat kemenangan suara harus mampu “menguasai” media ini dengan penayangan iklannya. Tetapi tidak sedikit biaya tentunya.
Contoh kasus bisa kita lihat pada Pemilu tahun 2004 kemarin khususnya Pemilu pemilihan presiden. Siapa yang sering terlihat di layar TV dari setiap stasiun televisi, dialah yang berhasil menarik simpati masyarakat. Saya teringat pada masa Pemilu legislatif di TPS ada seorang nenek yang bertanya pada petugas TPS untuk menunjukkan mana yang berlambang moncong putih yang akan dia coblos. Dengan enteng nenek tersebut berargumen bahwa bukannya gambar moncong putih yang harus dicoblos menurut iklan televisi dan yang sering diingatnya. Juga atusias kaum ibu-ibu yang riuh dalam mencoblos foto SBY sebagai idolanya bukan karena kesadaran politik.
Dari ilustrasi ini menggambarkan begitu kuatnya pengaruh media televisi untuk mempengaruhi orang awam sekalipun seperti mereka. Dengan televisi, kampanye mampu menjangkau orang-orang yang cacat sekalipun seperti tuna netra dan tuna rungu. Bagi mereka yang takdapat melihat, bisa menikmati dengan mendengar, begitu juga bagi yang tak dapat mendengar dapat menikmatinya dengan visualisasinya. Selain faktor aktualitas, televisi dengan karakteristik audio visualnya memberikan sejumlah keunggulan, diantaranya mampu menyampaikan pesan melalui gambar dan suara secara bersamaan dan hidup, serta dapat menayangkan ruang yang sangat luas kepada sejumlah besar pemirsa dalam waktu bersamaan (Nurrahmawati, 2002: 97).
Iklan tidak hanya sering tapi juga harus menarik dan mudah diingat oleh masyarakat. Pemberitaan mengenai Partai maupun tokoh juga berpengaruh terhadap persepsi masyarakat. Misalnya Partai mana saja yang sering melakukan kecurangan atau bertindak anarki akan dapat di lihat masyarakat secara aktual. Oleh karena itu opini yang ‘sengaja’ dibentuk oleh media menjadi senjata untuk menaikan ataupun menjatuhkan pamor salah satu kontestan Pemilu.
Dengan demikian diperlukan obyektivitas dan netralitas dari media itu sendiri agar tercipta iklim yang baik dalam masa Pemilu. Namun kita juga tidak boleh melupakan salah satu tujuan usaha yaitu tentunya profit. Artinya kita jangan mudah terpedaya oleh media massa yang mengatasnamakan berimbang dan tidak memihak. Karena penayangan iklan tentunya tidak gratis. Banyak sedikitnya penayangan ditentukan oleh besar kecilnya biaya. Selain itu juga kita perlu melihat siapa yang ada di balik media itu. Sedekat apakah hubungan antara sebuah media dengan pemerintah, Parpol, maupun tokoh politik lainnya? Ini sebagai parameter untuk mengukur netralitas sebuah media. Karena ini mempengaruhi pada setiap pemberitaan oleh media.
Tentunya kita sering melihat sebuah media lebih condong pada pemerintah atau partai tertentu. Kalau kita jeli dalam mencermati berita oleh media cetak ataupun elektronik, terkadang pemeberitaan selalu menyudutkan salah satu pihak dan mengunggulkan pihak yang lain. Selalu mencari kesalahan pihak ‘lawan’ tanpa melihat juga kesalahan pihak yang dibela.
Pengaruh surat kabar
Selain televisi, surat kabar atau media cetak memiliki andil dalam pembentukan persepsi masyarakat. Persepsi merupakan sebuah proses pemberian makna terhadap apa yang kita tangkap dari indera kita, sehingga kita memperoleh pengetahuan baru dari hal tersebut. Persepsi sangat dipengaruhi oleh informasi yang ditangkap secara keseluruhan. Begitu juga dengan pencitraan pada dasarnya juga dipengaruhi oleh informasi yang diterima dan dipersepsi.
Informasi atau berita dalam media massa merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh gatekeeper yang dijabat oleh pemimpin redaksi atau redaktur pelaksana surat kabar. Berita dalam surat kabar sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah laporan dari suatu kejadian penting dan dianggap menarik perhatian umum. Berita merupakan salah satu informasi yang diberikan oleh surat kabar. Dalam hal penyajian berita harus melalui seleksi. Karena isi berita sangat berpengaruh pada minat masyarakat untuk membaca.
Oleh karena adanya seleksi dalam pemuatan berita, maka tidak semua berita atau informasi yang ada dapat ter-expose. Berita yang dimuat biasanya hanya berita yang memiliki nilai jual. Terkadang dari sinilah kurang netralnya sebuah media. Media hanya mementingkan keuntungan saja, terkadang media kurang memeprhatikan masyarakat kecil khususnya. Sehingga mereka tak pernah terjamah oleh dunia elit.
Patterson berkesimpulan bahwa informasi surat kabar lebih efektif bagi khalayak dibanding televisi. Sajian berita surat kabar selain bentuk kata tercetak, juga kerap dalam bentuk visual berupa foto berita, lambang patai politik, atau karikatur. Dari asumsi ini terlihat bahwa surat kabar memiliki pengaruh yang besar pula dalam kampanye politik.
Menurut hasil penelitian terhadap mahasiswa, bahwa penonjolan berita pemilu melalui frekuensi pemunculan berita dan judul berita Organisasi Peserta Pemilu (OPP) terhadap persepsi mahasiswa tentang partai politik menunjukkan pengaruh yang signifikan (Yuniati, 2002). Suatu pesan atau berita yang sering diulang-ulang akan dapat menarik perhatian seseorang dabanding dengan pesan yang kurang banyak diungkapkan. Terlebih jika suatu berita serentak di berbagai surat kabar maupun televisi ditayangkan. Dalam surat kabar, sebuah berita besar atau yang menjadi topik utama selalu ditempatkan di halaman depan dengan judul yang menarik dan membuat penasaran ditambah dengan foto yang mendukung.
Semakin sering seorang tokoh atau berita tentang partai dimuat di halaman itu, maka akan semakin terkenallah dia. Kita coba ingat kembali berita dalam surat kabar pada waktu menjelang Pemilu 2004. Siapakah calon, tokoh, atau partai yang sering ‘berpose’ di halaman utama. Tentunya kita sering melihat berita tentang tokoh baru tersebut, tentunya seorang figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Nama dan partainya begitu sering muncul, ditambah dengan berita yang membuat simpati pada tokoh tersebut akibat disia-siakan oleh pemerintah sewaktu menjabat menteri.
Ternyata media massa baik surat kabar maupun televisi berpengaruh sangat besar bagi pemenangan dalam Pemilu. Komunikasi politik lebih efektif melalui sarana tidak langsung atau menggunakan media tersebut. Karena pesan yang disampaikan akan serentak diketahui oleh orang banyak di segala penjuru dan juga dapat diulang-ulang penayangannya. Persepsi, interpretasi, maupun opini publik mudah dipengaruhi lewat iklan maupun berita dalam media. Maka untuk menghindari terjadinya disfungsi media, media harus bisa menjadi penengah atau perantara antara pemerintah, elit partai, dan masyarakat. Di masa reformasi ini, dimana sudah mulai ada kebebasan pers seharusnya pers harus mengubah pola kerjanya yang semula ‘menjilat’ pemerintah karena terpaksa, tetapi sekarang harus netral dan sebagai alat kritik sosial bagi pemerintah maupun masyarakat.
***
Daftar Pustaka
Ali, Novel. 1999, Peradaban Komunikasi Politik: Potret Manusia indonesia, PT Remaja Rosda Karya, Bandung.
Intan Naomi, Omi. 1996, Anjing-anjing Penjaga Pers Orde Baru, Gorong-Gorong Budaya, Jakarta.
Nurrahmawati. 2002, “Pengaruh ‘Jingle’ Iklan Teh Botol Sosro di RCTI terhadap Pengingatan Merek Barang pada Pemirsa Remaja Pelajar SMUN Bandung”, Mediator Jurnal Komunikasi, Volume 3 Nomor 1 Tahun 2002, Diterbitkan oleh Fikom Unisba, Bandung.
Suryadi, Karim. 1999, “Media Massa dan Sosialisasi Politik: Perspektif Belajar Sosial”, Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Volume IV/ Oktober 1999, Diterbitkan oleh kerjasama ISKI dan PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Venus, Antar. 2004, Manajemen Kampanye: Panduan Teoritis dan Praktis dalam Mengefektifkan Kampanye Komunikasi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung.
PEMERINTAH kembali akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat ini. Konon, kondisi Timur Tengah yang kian memanas merupakan salah satu penyebab harga minyak dunia terus melambung tinggi mencapai 100 dolar AS per barelnya. Selama ini pemerintah memberikan subsidi untuk menanggung naiknya harga BBM dunia, sehingga harga yang dinikmati masyarakat tidak berpengaruh dengan kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan laporan Menteri Keuangan RI bahwa setiap tahun terjadi pembengkakan subsidi sekitar Rp 50 triliun hingga 70 triliun dari alokasi yang ditetapkan. Tahun 2011 lalu, misalnya, subsidi BBM mencapai Rp 165 triliun. Sementara tahun 2010 sekitar Rp 129,7 triliun, pada tahun 2012 pemerintah akan mengurangi subsidi menjadi sebesar Rp 123 triliun dari APBN-P.

Hal ini dilakukan untuk menghemat anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN). Dalam hitungan Menteri Keuangan, dengan kenaikan BBM sebesar Rp 1.000 per liter, penghematan subsidi sebesar RP 38 Triliun, sedangkkan jika kenaikan Rp 1.500 maka pemerintah bisa menghemat Rp 54 triliun (Tempo.com).

Ditinjau dari aspek makro ekonomi, kenaikan BBM akan memberikan dampak terhadap naiknya biaya produksi barang dan jasa yang menggunakan BBM, seperti home industry, industri manufaktur, perusahaan jasa transfortasi. Kenaikan biaya produksi, akan mangakibatkan kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan harga barang yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, akan berakibat kepada cost pust inflation (inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi). Dalam kajian makro, inflasi ringan akan memancing pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi itu diakibatkan oleh kenaikan biaya produksi, maka kenaikan harga ini akan berakibat terhadap penurunan output nasional (barang dan jasa yang dihasilkan nasional) atau penurunan pertumbuhan nasional.

 Menyumbang kemiskinan
Jika terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, maka efek dari kenaikan BBM ini akan menyumbang kemiskinan dan terciptanya penggangguran. Sebab, banyak perusahaan akan melepaskan sebagian tenaga kerjanya untuk tetap mempertahankan keuntungan mereka yang maksimal. Efek lain jika kenaikan BBM sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat, maka akibatnya adalah turunnya daya beli masyarakat. Jika ini yang terjadi maka akan terjadi kelesuan ekonomi.

Selain itu, jika penghematan anggaran APBN melalui pengurangan subsidi BBM, maka pemerintah bisa meningkatkan pembiayaan pengeluaran lainnya, untuk tujuan pembanguunan. Peningkatan pengeluaran pemerintah atau kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah dari sisi pengeluaran, khususnya pengeluaran untuk pembangunan, akan mampu memicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai contoh, misalnya, dana dari subsidi digunakan untuk penggunaan pembangunan dan perbaikan irigasi pengairan sawah di seluruh Indonesia, maka tentu secara tidak langsung produksi padi Nasional akan meningkat. Efek dari itu adalah pendapatan masyarakat akan meningkat, pembayaran pajak juga akan meningkat, dan pendapatan Nasional juga meningkat.

Jadi dengan penghematan APBN dilakukan pemerintah dan dialokasikan ke kebijakan fiskal yang lebih besar, maka aka ada pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat kecil, dan menurunnya angka kemiskinan.

Oleh karena itu perlu pengkajian lebih dalam secara makro ekonomi dengan melihat seberapa besar pengaruh kenaikan BBM terhadap inflasi yang disebabkan oleh cost pust inflation dan penghematan yang bisa dialokasikan untuk tujuan pembangunan.

Memberikan keringanan bagi masyarakat miskin agar mampu membeli BBM, tentu ini tidak tepat sasaran. Secara realita malah terbalik dari anggapan ini, jika kita melihat, masyarakat yang sangat miskin hanya menggunakan BBM maksimal 2 liter/hari, sementara masyarakat kalangan atas ada yang hitungan per barel/hari.

Pertanyaannya, berapa besar subsidi BBM yang dinikmati oleh masyarakat kecil dan seberapa besar pula BBM yang dinikmati oleh orang kaya?

Di sisi lain, efek dari subsidi BBM telah terjadi penyuludupan, karena selisih harga antara Negara Indonesia dengan Negara tetangga, sehingga para mafia ini menikmati hampir triliunan dari subsidi BBM ini. Akibatnya, sasaran subsidi untuk masyarakat kecil malah tidak tercapai.

 Perlu dilakukan

Kesimpulannya adalah jika pemerintah menaikkan BBM untuk penghematan APBN-P dilihat dari keefektifan penggunaan anggaran maka sangat perlu dilakukan, untuk mengatasi krisis belanja Negara. Kita merupakan Negara miskin yang masih perlu pembangunan berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Seharusnya kita melakukan penghematan untuk tujuan pembangunan. Tanpa ada pembangunan dari berbagai sektor, maka pengangguran terus meningkat, juga meningkat kemiskinan yang akhirnya kita menjadi Negara selamanya tertinggal dan terbelakang karena prilaku masyarakatnya yang tidak siap dalam pembangunan ekonomi.

Selama ini masyarakat dikembangkan dengan isu cost pust inflation atau inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi, tanpa mengkaji lebih dalam dari efek subsidi BBM. Melalui tulisan ini maka perlu memahami lebih dalam dari efek kenaikan harga tersebut.

Perbedaan pendapat memang kadang kala perlu, tetapi setiap kebijakan nasional tentu ada efeknya terhadap pembangunan. Kita sama-sama harus berpikir rasional dengan kenaikan harga BBM. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memahami isu kenaikan BBM tersebut.

Pengamat Politik UGM mengingatkan Presiden SBY akan dampak munculnya simpati publik terhadap PKS jika Partai itu dikeluarkan. Karenanya, SBY sekaligus Ketua Setgab untuk memikirkan sejumlah pertimbangan.
Paling tidak, ada kalkulasi-kalkulasi politik yang mungkin menjadi sangat rumit dan berisiko yang akan menjadi konsekuensi pilihan.
"Pertama bagaimana risiko politik dari mengeluarkan PKS. Tentu saja mengenai politik mellow dramatik, yang menimbulkan simpati publik yang besar kalau ini dikaitkan dengan teraniaya seperti dizolimi," ulas Pengamat Politik UGM ini dalam polemik Sindo Radio, di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (7/4/2012).
Kedua juga kalkulasi mengenai risiko politik di parlemen. Sebagaimana dikatakan Happy Bone Zulkarnaen, Wasekjen Partai Golkar kekuatan koalisi masih kuat jika PKS keluar.
Namun, ia menyatakan siapa yang bisa menjamin Golkar tetap berada dalam koalisi. Pasalnya berdasarkan pengamatannya, Golkar adalah salah satu Partai yang dua tahun masa pemerintahan ini yang mudah berayun. Dan kegampangan berayun inilah yang kemudian membuat tidak ada jaminan posisi soliditas oposisi itu tetap bertahan, tetap bertahan 2,5 tahun kedepan.
"Mengapa tidak. Karena kalau kita lihat dilema PKS, sebenarnya sama dengan dilemanya Golkar sebagai Partai pendukung pemerintah. Mengapa sama? Satu Golkar kalau dia berada di koalisi dia harus menyakinkan betul bahwa dia tidak berada di bawah bayang-bayang Demokrat," terangnya.
"Kalau banyak program-program pemerintah sekarang ini apa itu nanti BLSM, itu pasti "dalam berbagai survei menunjukan" bahwa yang akan mendapat insentif itu partai Demokrat. Sehingga kalau Golkar masih berada di koalisi tanpa ada syarat-syarat lain dan posisi tawar, maka Golkar tidak bisa membangun pembeda atau diversifikasi dengan Demokrat."
Jadi sebenarnya dilemanya PKS juga adalah dilemanya Golkar. Pertanyaannya Golkar seperti apa dalam 2,5 tahun ini. Apakah akan tetap solid, atau apakah ada jaminan Golkar ada di koalisi atau membangun diverisiasi.
Ketiga menurutnya  yang menjadi kalkulasi yang cukup rumit adalah power sharing kedepan.
"Nah kalau PKS dikeluarkan dari koalisi, bagaimana dengan perimbangan kekuatan baru. Apakah ini dikasihkan kepada Golkar, karena sangat berjasa atas BBM kemarin? Atau ada perimbangan baru? Kalau dikasih semuanya kepada Golkar, tentu akan menjadi masalah di tempat lain," urainya.
Namun, dia menegaskan pangungnya sekarang menjadinya pangung Presiden, milik Presiden seutuhnya dalam memutuskan sikap atas PKS.
"Menurut saya ada dua hal yang kita bisa lihat kemana arahnya ini. Kalau melihat dari sisi prosedural dilalui. Sekarang ini tinggal menunggu apa yang akan diambil presiden," katanya.

Penulis: Srihandriatmo Malau  |  Editor: Johnson Simanjuntak
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Model Komunikasi Shannon-Weaver dan De-Fleur

Model komunikasi Shannon-Weaver membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumber daya informasi (source information) yang menciptakan sebuah pesan (message) dan mengirimnya dengan suatu saluran (channel) kepada penerima (receiver) yang kemudian membuat ulang (recreate) pesan tersebut. Dengan kata lain, model ini mengasumsikan bahwa sumberdaya informasi menciptakan pesan dari seperangkat pesan yang tersedia. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang dipakai. Saluran adalah media yang mengirim tanda dari pemancar kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, pemancar adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh udara. Penerima adalah mekanisme pendengaran yang kemudian merekonstruksi pesan dari tanda itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam model ini adalah gangguan. Model ini menganggap bahwa komunikasi adalah fenomena statis dan satu arah. Dan juga, model ini terkesan terlalu rumit. Model ini diterapkan pada televisi dan radio. Sedangkan Model Komunikasi De Fleur Model ini merupakan model komunikasi massa. Dengan menyisipkan perangkat medium massa dan perangkat umpan balik. Model ini menggambarkan sumber, pemancar, penerima, dan tujuan sebagai fase yang terpisah dalam proses komunikasi massa. Fungsi dari penerima dalam model Defleur adalah menerima informasi dan menyandikannya. Menurut Defleur, komunikasi bukanlah sebuah pemindahan makna. Komunikasi terjadi dengan seperangkat komponen operasi di dalam sistem teoritis, dengan konsekuensinya adalah isomorpis diantara internal penerima kepada seperangkat simbol kepada sumber dan penerima. Model komunikasi ini diterapkan pada koneksi internet.
Universitas Fajar Makassar
enterpreneur university





Universitas Fajar (Unifa) adalah salah satu perguruan tinggi swasta di linkungan Kopertis wilayah Sulawesi yang berada di bawah yayasan Pendidikan Fajar Ujung Pandang (salah satu unit dari kelompok Fajar grup (Harian Fajar-Jawa Pos)dengan fokus utama pada usaha media cetak yang tersebar dan terbesar di Kawasan Indonesia Timur)
Universitas Fajar diresmikan pada tanggal 8 Agustus 2008 dengan surat keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan nomor: 132/d/0/2008 yang berkedudukan di Makassar


Visi
Menjadi Universitas Terkemuka di Indonesia yang menghasilkan lulusan yang unggul, bermartabat, dan berjiwa enterpreneur untuk mengabdi kepada kepentingan dan kemakmuran bangsa.
Misi
Melaksanakan pembelajaran, penelitian dan pengabdian yang berbasis enterpreneur melalui:
- penerapan manajemen pengelolaan pendidikan yang efektif dan efisien;
- penerapan kurikulum dan metode pembelajaran yang terbaik;
- penerapan sumber daya yang memadai dan berkualitas


Fakultas & Program Studi


Fasilitas Kampus

Laboratorium

Peta Lokasi Kampus Unifa
Alamat Lengkap Kampus:
Jl. Racing Centre No. 101
Tlp. (0411) 447508-459938
Fax. (0411) 441119
Email: univ.fajar@gmail.com

Makassar - 90231
Sulawesi Selatan - Indonesia

Untuk Info lebih lengkap, silahkan kunjungi website unifa http://unifa.ac.id

Komunikasi Politik


Opini Publik
Opini publik adalah pendapat kelompok masyarakat atau sintesa dari pendapat dan diperoleh dari suatu diskusi sosial dari pihak-pihak yang memiliki kaitan kepentingan. Agregat dari sikap dan kepercayaan ini biasanya dianut oleh populasi orang dewasa.
Dalam menentukan opini publik, yang dihitung bukanlah jumlah mayoritasnya (numerical majority) namun mayoritas yang efektif (effective majority). Subyek opini publik adalah masalah baru yang kontroversial dimana unsur-unsur opini publik adalah: pernyataan yang kontroversial, mengenai suatu hal yang bertentangan, dan reaksi pertama/gagasan baru.
Pendekatan prinsip terhadap kajian opini publik dapat dibagi menjadi 4 kategori:
  1. pengukuran kuantitatif terhadap distribusi opini
  2. penelitian terhadap hubungan internal antara opini individu yang membentuk opini publik pada suatu permasalahan
  3. deskripsi tentang atau analisis terhadap peran publik dari opini publik
  4. kajian baik terhadap media komunikasi yang memunculkan gagasan yang menjadi dasar opini maupun terhadap penggunaan media oleh pelaku propaganda dan manipulasi.
Menurut Dan Nimmo, opini personal terdiri atas kegiatan verbal dan non verbal yang menyajikan citra dan interpretasi individual tentang objek tertentu, biasanya dalam bentuk isu yang diperdebatkan orang.
Opini dapat dinyatakan secara aktif maupun secara pasif. Opini dapat dinyatakan secara verbal, terbuka dengan kata-kata yang dapat ditafsirkan secara jelas, ataupun melalui pilihan-pilihan kata yang sangat halus dan tidak secara langsung dapat diartikan (konotatif). Opini dapat pula dinyatakan melalui perilaku, bahasa tubuh, raut muka, simbol-simbol tertulis, pakaian yang dikenakan, dan oleh tanda-tanda lain yang tak terbilang jumlahnya, melalui referensi, nilai-nilai, pandangan, sikap, dan kesetiaan.
Opini publik itu identik dengan pengertian kebebasan, keterbukaan dalam mengungkapkan ide-ide, pendapat, keinginan, keluhan, kritik yang membangun, dan kebebasan di dalam penulisan. Dengan kata lain, opini publik itu merupakan efek dari kebebasan dalam mengungkapkan ide-ide dan pendapat.